Rabu, 30 November 2011

Agung (part 1)


 “Aduuh.. Udin.,.. mau bangun jam berapa kamu? Cepet mandi sono.. Nanti telat sekolah Emak kan rugi. Kamu gak shalat subuh yaa!!”
Astaga.. Huh,,, suara berisik emak mengagetkanku. Aku kan sedang bermimpi indah tadi. Huft.. aku bermimpi ke sungai Cisadane yang mirip dengan sungai Seine yang ada di Paris. Suasana Tangerang sangat indah sekali dalam mimpiku itu. Tower-tower yang ku lihat di sepanjang jalan pinggiran sungai Cisadane, mirip sekali dengan Menara Eiffel. Sungguh suasana yang sangat glamour. Membuat hatiku tenang. Tapi emak segera mengagetkanku dengan suara cemprengnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Aku harus berangkat sekolah. Aku bergegas beranjak dari tempat tidurku dengan malas. Aku mengucek sebelah mataku yang bertanda bahwa aku masih ingin tidur di atas kasur bulukku yang sudah berjamur dan rusak itu.
sampai kapan kamu mau ngucek mata kayak gitu? Sampe matamu copot? Udah sono mandi..”
Dengan malas aku bergerak ke kamar mandi. Dari dalam rumahku yang bisa di bilang sudah tidak layak ini, ku dengar para Emak-Emak lainnya sedang mengurumuni Abang penjual sayuran di depan. Aku mengintip ke luar. Ku lihat sang Abang dengan ekspresi bingungnya menjawab satu-satu pertanyaan para Emak-Emak itu. Mereka, seperti biasa, sedang menawar sayuran yang ingin mereka beli dengan harga tawar yang sangat tidak wajar. Kasian si Abang. Para Emak-Emak itu hanya mementingkan kepentingannya sendiri. Tidak memikirkan si Abang yang juga bingung harus menghidupi anaknya di kota maju seperti Tangerang ini, jika sayuran yang susah-susah ia dapatkan di beli oleh para Emak-Emak itu dengan harga yang sangat sangat sangat sangaaatt murah. Pernahkah dia berfikir untuk mencuri saja untuk memperoleh uang dengan mudah? Semoga saja tidak. Awww..
Seseorang sedang memegang telinga ku dan memelintirnya. Dengan kencang. Sakit.
inii anak bangor banget sih. Di suruh mandi malah bengong di sini.. bener-bener..”
Aduhh.. Sangking asiknya aku melihat kegiatan pagi di luar, aku lupa tujuan pertamaku.. aku harus mandi.. pantas saja Emak menjewer telingaku.
Aaammpuun Mak.. Iya deh. Udin mandi..”
kulihat Bapak yang sedang membaca koran sambil menyeruput kopi buatan Emak tertawa melihat aku dan Emak.
Langsung saja aku berlari ke arah kamar mandiku yang ku bilang bukan seperti kamar mandi melainkan seperti gudang bengkel Pak Akiok yang ada di dekat sekolah. Gudang yang sangat kotor dan menjijikan.
Aku terengah-engah dan bersandar di balik pintu kamar mandiku. Untung saja aku cepat-cepat kabur dari Emak. Kalau tidak, bokong sudah di pukul dengan sapu tadi.. huh...
Setelah aku merasa lebih tenang, aku segera membuka bajuku dan bergegas menerima terpaan air dingin di pagi hari yang sejuk ini.
Byurr..
Aku baru ingat aku lupa shalat subuh hari ini. Kalau Emak ingat bisa gawat..


*


Mak, Pak Udin berangkat sekolah ya.. assalamulaikum..”
waalaikumssalam.. ati-ati. Belajar yang pinter.”
’’ya Mak..”
Semur jengkol yang Emak buat tadi sungguh memberikanku semangat yang luar biasa..... Maklum. Jengkol adalah makanan kesukaanku. Aku sangat menyukai makanan yang beraroma tajam itu. Tapi, aku hanya menyukai semur jengkol buatan Emak saja. Semur jengkol buatan Emak adalah yang nomor satu di kampung Rawan Ban Ban ini. Yah kebetulan, Emak membuka warung makan di rumah dan warung makan itu sangat khas dengan jengkol yang Emak buat. Hampir setiaphari warung makan itu penuh dengan orang-orang yang ketagihan dengan masakan Emak.
Kalau Bapak, beliau bekerja sebagai karyawan pabrik pembuat makanan ringan. Jadi, beliau suka membawa pulang makanan ringan yang diproduksi pabrik tersebut. Pabrik makanan ringan ini sangat terkenal di Tangerang.
Pagi yang sejuk. Hari ini matahari seperti tidak mau menampakan dirinya.. apa mungkin karena jerawatnya sedang banyak? Entahlah. Aku tidak tahu. Tapi, yang pasti aku senang karena upacara nanti aku tidak akan kepanasan.
Saat aku sedang berjalan dengan semangat, tiba-tiba seseorang menarik baju seragam ku yang sudah usang dan menguning. Refleks aku menghentikan langkah kakiku. Aku berbalik ke belakang dengan rasa ingin tahu siapa yang menghentikanku.
Pagi Udin.”
Suara ceria itu. Dia Sarah. Gadis kecil yang sangat ceria tetapi sensitif. Aku tidak menyadari kehadirannya yang sejak tadi ternyata ada di belakangku.
Sarah.. iih,”
Gadis kecil itu tertawa. Mukanya yang bulat dengan potongan rambut ala Changcuters itu terlihat sumringah seperti biasa.
Kaget?”
Iya lah..”
Dia tertawa lagi. Kali ini tawanya tidak seheboh tadi.
Dia berjalan ke samping ku. Aku berbalik dan kami berjalan bersama menuju sekolah. Sekolah kami sama. Dan kami juga duduk di bangku SD. Tepatnya kelas 5 SD. Di satu kelas yang sama pula. Ruang 5a. Jalan yang kami lewati menuju sekolah juga sama. Maka itu, aku dekat dengannya.
Din, lu bawa topi gak buat upacara nanti?” tanya Sarah padaku.
hmm.. bawa.. Lu?”
enggak..” katanya sambil memainkan rambut pirangnya.
Ya, rambut nya memang putihnya. Bukan karena di semir atau uban, tapi memang begitulah warna rambutnya. Tidak hanya rambutnya, bulu mata, alis, bulu tangan, bulu kaki dan semua rambut yang menempel di tubuhnya memang berwarna pirang. Kulitnya sangat putih. Sangat putih. Matanya berwarna pink pucat. Fisiknya berbeda sekali dengan kami. Bocah kampung Rawa Ban Ban yang ada di Tangerang ini. Kami berambut hitam dan rata-rata dari kami memiliki warna kulit yang gelap. Dari ciri-ciri yang ku tulis ini, mungkin kalian berfikir dia ada keturunan bule atau semacamnya. Tapi, bukan. Dia asli orang Indonesia. Juga asli orang Tangerang yang tepatnya di desa Rawa Ban-Ban ini. Ayahnya seorang kuli dan ibunya seorang pedagang sayuran di pasar Ban-Ban. Faktanya, dia terkena penyakit Albino. Penyakit itu sudah ia derita sejak lahir. Kata orang dewasa sekitarku, Albino itu adalah penyakit yang menyebabkan tubuh penderita tidak bisa memproduksi pigmen melanin sehingga kulit dan rambutnya putih seperti susu juga pada mata. Iris dan pupilnya berwarna pink pucat.
Tapi, meskipun Sarah cacat, dia tetap ceria dan percaya diri. Dia juga sangat mudah bergaul. Makanya, semua teman menyukainya termasuk aku.
kok gak bawa sih? Ntar di hukum loh..”
haha.. gak apa.. habisnya topi gue kemarin hilang. terus pas minta di beliin, bapak gua gak bisa. Gak punya uang. Ibu juga. Hasil dagangnya nurun. Ya udah. Gua gak beli. Tapi yang penting gua masih bisa sekolah.” Tuturnya sambil tersenyum..
Aku tersenyum kagum padanya. Dia perempuan yang hebat dan tangguh. Dia juga tegar. Di saat keluarganya sangat miskin seperti sekarang, dia masih punya semangat untuk sekolah. Aku harus bersyukur karena aku masih lebih beruntung ketimbang Sarah.
Kami hampir tiba di sekolah. Dari kejauhan, ku lihat anak-anak berlari-lari masuk sekolah. Pak Kusni, sang penjaga sekolah hanya tersenyum melihat anak-anak bersemangat masuk sekolah. Ia tahu. Sekolah yang sudah 13 tahun Ia jaga itu adalah sekolah butek dan jelek yang tidak punya nama sama sekali di banding sekolah di sekitarnya. Bisa di bilang sekolah itu adalah yang terburuk dari yang terburuk. Bangunan yang jamuran dan rapuh. Atap yang sering bocor dan berjamur. Tapi biarpun begitu, Pak Kusni tetap bertahan di sana. Karena beliau sudah terlanjur cinta terhadap sekolah lapuk itu. Selain itu, beliau berkata bahwa hanya di sinilah beliau melihat anak-anak yang mempunyai semangat bersekolah. Di sekolah yang besar lainnya, para siswa yang berpenampilan keren dan membawa banyak uang ke sekolah itu hanya mementingkan penampilannya saja. Sekolah saja ogah-ogahan. Mereka juga sombong dan bersikap tidak sopan kepada orang-orang yang mereka anggap miskin. Maka dari itu Pak Kusni memilih sekolah ini untuk beliau cintai.
Duukk..
Tiba tiba ada yang menabrakku dari belakang. Aku terkaget. Aku terdorong ke samping dan hampir jatuh. Untung saja Sarah segera memegangiku supaya aku tidak jatuh.
Orang yang menabrakku itu berlari menjauh.
Idiih.. engga sopan banget tuh anak. Udah nabrak, main kabur gitu aja.. sakit gak din?” tanya Sarah.
Engga” jawabku sambil tersenyum.
Ku lihat lagi orang yang menabrakku tadi. Seorang lelaki Ban-Ban kecil yang berpakaian compang camping. Robek sana sini. Sungguh tak karuan. Kumal dan sangat jorok. Rambutnya keriting tak jelas. Dan dia tak memakai alas kaki. Membawa sebuah karung goni besar. Lebih besar dari pada tubuhnya yang kecil dan kurus. Matanya terarah pada sesuatu. Sekolah. Matanya terarah pada sekolah ku. SD Jurumudi yang buluk dan kumal.


*


Haduuh.. pelajarannya susah banget tadi. Gua gak ngerti!” keluh Sarah.
Kantin sekolah sedang ramai saat istirahat. Aku dan Sara kesulitan untuk mencari tempat duduk. Yah maklum. Kantin sekolah Jurumudi itu sangat kecil dan sempit. Kebetulan 2 orang anak yang duduk segera bangkit dan kami cepat-cepat mengambil kursi yang ada.
Aku memesan segelas teh manis dsan sepiring nasi goreng dari kantin Mbak Jul. Makanan yang dijual di kantin Mbak Jul memang sangat enak. Dia juga membuka restoran di kota Tangerang dan dagangannya laris. Tapi, walaupun sudah membuka restoran di kota, Mbak Jul tetap berjualan di kantin ini. Katanya dia senang apa bila melihat anak-anak memakan makanan buatannya dengan wajah gembira.
Ku tengok Sarah yang duduk di sampingku. Sara hanya membeli segelas air putih tanpa makanan.
Lu gak makan Sar?” tanya bingung.
Sara hanaya menggeleng.
Gak bawa uang jajan?” tanyaku sekali lagi.
Huft,, gua bawa kok”
Kok gak beli makanan?”
Engga. Duitnya sayang. Mau gua tabung aja. Kasihan Ibu sama Bapak gua kalau duit ini gua pake.” Katanya sambil tersenyum.
Aku hanya terdiam sambil terus memandangi wajah Sara yang tersenyum. Masih ada aak yang seperti ini di Tangerang? Benar benar anak yang baik dan berbakti.
Niih. Makan. Gak tega gua ngeliat muka lu yang kelaparan kea gitu.” kata ku sambil menggeser pirinku tepat di depan Sara.
Sara hanya tersenyum.
Makasih”.


*


Siang yang sangat panas tanpa Sarah yang biasa pulang bersamaku. Hari ini dia pergi ke tempat Ayahnya sepulang sekolah. Ada masalah yang harus ia selesaikan bersama Beliau. Aku bejalan pulang sambil terhuyung huyung lemas karena matahari terlalu percaya diri mengeluarkan sinarnya siang ini. Apakah jerawatnya sudah hilang ya? Entahlah. Itu hanya imajinasi ku saja. Seorang anak Ban-Ban dalam yang sangat menyukai sastra Indonesia. Faktanya, panas ini di sebabkan oleh Mr. Global Warming yang semakin menjadi jadi. Sepertinya dulu desa Rawa Ban-Ban yang berada di tengah kota Tangerang tidak sepanas ini.
Dari kejauhan, kulihat seorang anak lelaki sedang beristirahat di bawah pohon beringin yang rindang sambil meminum sebotol air dingin. Tangan kanannya menyeka keringat yang mengalir deras. Di samping tubuh kecilnya terlihat sebuah karung goni besar yang kelihatannya sangat berat. Dia melihatku lalu tersenyum. Dia anak yang tadi pagi menabrakku. Dan karung goni besar yang ada di sampingnya itulah yang dia bawa tadi pagi. Karung itu bertuliskan Laskar Benda. Benda adalah nama kecamatan daerah ini. Aku segera membalas senyumannya dan menghampiri bocah itu.
Lu yang tadi pagi nabrak gua kan?” tanyaku.
Ekspresi anak itu berubah. Seperti seekor tikus kecil yang baru sadar akan kedatangan musuhnya. Dia teringat sesuatu. Dia cepat-cepat berdiri dan berusaha kabur dariku. Tetapi aku segera menarik bajunya yang kumal itu sambil tersenyum licik. Anak itu melihatku dengan wajah ketakutan. Aku tak tega melihatnya. Aku segera melepas genggamanku dari bajunya yang kotor itu. Matanya mulai berkaca-kaca.
heh, kok lu nangis? Belum gua apa-apain juga.”
Anak itu mengucek matanya yang besar atau bisa dibilang belo. Lalu mengelap matanya degan bajunya yang kotor.
Maaf ya. Aku tidak sengaja menabrakmu tadi pagi.” katanya terisak.
Aku tersenyum dan menepok bahunya.
Iya. Gak apa-apa. Tapi lain kali hati-hati ya”
Lelaki itu tersenyum dan mengangguk.
Aku menatap ke langit dan tanganku membentuk gerakan hormat seperti saat upacara bendera. Benar-benar terik kataku dalam hati.
Kepanasan ya?” tanya anak itu dengan tatapan khawatir.
Aku mengangguk.
di sini adem. Duduk aja.” katanya sambil menujuk ke arah tempat yang ia duduki tadi.memang terlihat lebih adem ketimbang di tempat aku berdiri ini.
Aku menggangguk dan duduk di bawah pohon beringin tua itu. Anak itupun ikut duduk di sebelahku. Aku melihat keadaan sekitar. Aku baru sadar. Hanya ada satu pohon saja di daerah ini. Yang lainnya hanya rumah-rumah kumuh warga yang sudah benar-benar tak layak untuk ditinggali di tengah kota Tangerang ini.
Pohon beringin tua ini sudah ada sejak aku lahir. Akar-akarnya dan ranting pohonnya sangat besar. Pohon raksasa. Itu sebutan yang aku buat untuk pohon yang sudah hidup dari jaman neneknya neneknya nenek buyutku..
suka tempat ini?”
Aku mengangguk.
Ini tempat main gua waktu keci.” Sahutku.
Benarkah? Aku juga sering main di sini.” Kata anak itu.
Serius? Kok gua gak pernah liat lo main di sini?” Tanya ku.
Kamu enggak inget kali. Aku sering liat kamu main di sini dulu. Kamu juga sering ngajak aku main.” katanya tersenyum.
Aku bingung, siapa bocah misterius ini?
Nama lo siapa?”
Agung. Kamu?”
Udin.”
Oh..”
suasana hening.
Baru pulang sekolah?”
Ia.. ”
Suasana hening kembali. Agung berhenti bertanya padaku. Aku melihat ke arahnya. Mukanya tiba-tiba murung.
Enak yaa.” katany lesu.
Aku terdiam.
Enak gimana?”
Ya enaklah. Kamu bisa sekolah. Aku? Aku engga bisa.” katanya lesu.
Kenapa?”
Nggak punya uang.” jawabnya lesu.
Aku kaget. Dia tidak bersekolah. Tidak punya uang katanya. Apaa? Hari ini masih ada anak yang tidak bisa sekolah karena tidak punya uang. Apakah semua orang yang tidak punya uang tidak bisa sekolah? Iniii Tidakkk Adiil.. semua anak berhak sekolah. Biarpun tidak punya uang, mereka tetap harus sekolah. Kalau mereka tidak bersekolah, bagaimana dengan masa depan mereka? Apakah mereka harus seperti orang tua mereka yang miskin dan bodoh? Yang hanya bekerja sebagai kuli bangunan atau pedagang di pasar? Aku merasa marah sangat marah.
Apa semua anak yang gak punya uang gak boleh sekolah?” tanya ku pada anak itu dengan tatapan tajam.
Hah... Udin, Din. Kalau mau sekolah harus ada duit Din. Bayar uang sekolah, uang buku, uang seragam, biaya bulanan, semuanyaa pake duit Din. Kalau pake daun mah aku udah sekolah dari dulu. Aku, cari makan aja susah. Gimana mau sekolah?” katanya.
Bukannya sekarang udah ada sekolah gratis?” tanyaku.
Sekolah gratisnya jauh. Adanya Cuma di tempat-tempat terkenal doang. Kalau di kampung gini mana ada.” katanya sambil menerawang jauh.
Aku diam. Tak sanggup berkata apa-apa. Kasihan Agung. Dalam hati aku sangat bersyukur pada Tuhan. Karena aku masih bisa sekolah dan kehidupan keluarga ku tak seburuk Agung.
Lo bisa baca?” tanyaku.
Bisa. Nulis juga bisa” katanya.
Aku kaget. Dia bisa menulis dan membaca? Bocah ini pintar. Dia tidak sekolah tapi dia bisa menulis dan membaca. Pasti dia punya semangat belajar yang tinggi.
Bapak lo kerja apa?” tanyaku.
Enggak tahu.” jawabnya singkat.
Eh? Masa enggak tau?” tanyaku bingung.


Dia hanya menggeleng.
Bapak lo di mana?”
Yang jelas ngga di sini. Dia ada di tempat yang jauh.”
Aku terdiam lagi. Bingung dengan bocah misterius ini.
lo tau dia di mana?”
Tau”
Lo pernah coba hubungin dia?”
Pernah. Aku udah coba ngirim surat ke dia melalui kantor pos tercepat di Tangerang, tapi katanya engga bisa di kirim.” tuturnya sedih.
Hah? Kok gak bisa?” tanyaku bingung.
Dia terdiam sejenak. Lalu menghela nafas panjang.
Kata tukang pos, suratnya gak mungkin sampai ke Surga. Padahal Bapak tinggal di sana sekarang. Tukang posnya payah.” katanya lesu.
Ya ampun. Ini bocah. Jelas aja gak bisa. Orang bapaknya udah meninggal. Kataku dalam hati. Aku kasian padanya.
Ibu lo?”
Sekarang lagi di rumah sakit.tapi gak balik-balik.”
Hah? Aku makin bingung dibuatnya.
Sakit atau kerja?” tanyaku.
Sakit” jawabnya lemah.
Sakit apa?”
Sakit keras. Gak tau sakit apa. Ibu suka marah-marah sendiri. Suka mukulin aku. Aku benci sama Ibu.” katanya. Matanya mulai berkaca-kaca.
Nama Rumah sakitnya apa?” tanyaku.
Grogol.” Jawabnya.
Hah? Grogol? Itu kan nama Rumah sakit jiwa yang ada di Grgol. Haduuhh… Anak ini.
Terus sekarang lo tinggal sama siapa?” tanyaku.
Nenek.” katanya.
Terus yang biayain hidup lo nenek lo juga?”
Ia.. dia kerja sebagai tukang pijit keliling, Namanya Mbok Minah.”
Mbok Minah? Itu kan nenek seksi plus genit yang sering mijitin Emak. Dia terkenal sekali di kampung Rawa Ban Ban ini sebagai tukang pijat yang laris manis di panggil orang karena pijatannya yang mantap. Aku pernah sekali di pijatnya karena kakiku keseleo. Dan pijatannya sangat membuahkan hasil. Kakiku sembuh dan dapat kugerakan kembali dengan leluasa.Dia juga terkenal dengan sebutan Mbok NELI. NELI itu singkatan dari kata Nenek Lincah. Abang – abang genit yang suka nongkrong tidak jelas itulah yang menciptkan panggilan tersebut. Ya ampun. Ternyata nenek itu neneknya Agung. Nenek yang sudah tua itu bekerja sedemikian giat untuk Agung? Cucu yang sangat di kasihinya?
Terus, lu ngapain bawa tuh karung? Isinya apa?”
Sampah.”
Hah?”
Iaa sampah. Isinya kan bisa di jual.”
Jadi lo..”
Aku tak sanggup berkata apapun. Ini sangat parah.
Aku harus bantuin Mbok. Kasihan kalau dia hanya kerja sendirian. Berhubung aku masih kecil, aku gak bisa apa-apa kecuali jadi pemulung.” tuturnya sedih.
Lo mau sekolah?” tanya ku serius.
Ia. Aku mau.” jawab Agung.
Besok siang lo dateng ke sini.” kataku sambil berlalu.
Sip.. makasih Udin. Udah mau jadi temanku.” katanya sambil tersenyum.
Sama-sama” kataku sambil membalas senyumannya.
Sinar matahari tidak terlalu terik lagi setelah aku pergi meninggalkan Agung kecil. Aku berjalan menyusuri perkampungan dekil ini. Melihat keadaan sekitar. Layakkah kami tinggal di sini? Layakkah tempat seperti ini berada di tengah tengah kota Tangerang yang maju dan berkembang? Tanyaku dalam hati. Dan aku yakin, bagi orang-orang yang membaca tulisanku tentu menjawab tidak. Ini benar-benar tidak layak! Tempat ini begitu parah. Bisa di bilang ini bukan tempat yang ccocok untuk manusia. Tidak terawat. Adakah terpikir oleh mereka, para orang orang besar untuk membangun tempat ini supaya menjadi lebih baik? Adakah terlintas di pikiran mereka untuk memberikan bantuan kepada orang-orang seperti kami? Aku tidak pernah tau itu. Tapi, prinsipku adalah Aku tidak mengharapkan bantuan mereka tetapi aku mengharapkan diriku sendiri supaya aku bisa membuktikan pada orang-orang besar itu bahwa, seorang bocah miskin dari kampung Rawa Ban Ban yang tidak layak ini bisa berhasil dan dapat melampaui orang-orang besar dan kaya yang sombong itu. Dan Agung, dia harus sekolah supaya bisa membantuku menjalankan prinsipku. Yaa.. Dia harus sekolah. Harus......


*


Assalamualaikum.”
Waalaikumssalam. Udah pulang Kamu Din? Kok tumben telat?”
Ia Mak. Udin tadi ketemu temen. Mak, Udin main bola dulu ya.”
Haduuuh.. Kamu baru pulang sudah mau pergi lagi?”
Biarkan Mak, namanya juga anak laki-laki...”
Haha.. makasih Pak.”
Huh,, Bapak, terus saja manjakan dia.”.


(to be continued)


Selasa, 29 November 2011

Pilihan Berat...

Sekali lagi gue panjatkan syukur gue sama Tuhan. Lagi lagi hahahaha Miracle nyamperin gue tiap hari. Gue di terima masuk sekolah yang tadinya gue gak yakin lulus tes di sana karena tes nya itu JAHANAM banget ! ALHAMDULILAAHH !!!!!!!!! Gue lulusss dan so pasti diterima jadi anak SMA TARAKANITA 2 ! Gue senengnya gak ketolongan. sampai udah Nazar kalo gue lulus, gue bakal sumbangin baju baju gue ke orang-orang yang kurang mampu dibanding gue. Monica, sahabat sejati segaul seronok gue juga diterima di sana. tambah seneng lagi ! Ya ampun, seneng seneng seneng !

Sebenarnya sempet galau sih, tetep di sekolah lama atau pindah yaaahh......... gue galau sampai lupa mandi tapi tetep gak bisa lupa makan. gue galau sejadi jadinya. kalo gue pindah, jelas banget gue gak bisa jailin guru guru di sekolah lama gue, pergaulan udah pasti beda. yang biasanya nongkrong murah di Ayam Crispy, nantinya bakal lebih sering ke Mall, pasalnya sekolah Tarakanita 2 ini pas banget depan depanan sama Pluit Village. biasanya jalan pake jeans belel kaos oblong ngegembel bareng temen temen, (feeling gue) nantinya temen-temen gue di sana mungkin bakal pakai rok se-selangkangan yang lagi hits banget dikalangan anak labil kayak gue *lirik paha*. ah pasti banyak banget deh yang berubah.

tapi kalau gue gak pindah, gue nantinya kuper dong. Secara udah sekolahnya di komplek, tinggalnya di komplek itu juga, orang nya? ya dia dia lagi (yang pasti bakal ngangenin banget). Akhirnya gue buletin kotakin segitigain niat gue untuk move ke sekolah itu, yang tes masuknya JAHANAM.

alhamdulilah gue lulus. untuk kesekian kalinya gue panjatkan rasa syukur ini. gak salah kata orang, God is everywhere....

Buat temen temen yang pastinya bakal gue tinggalin, jangan lupain gue ya. Inget gue yang lebay, cengeng, jayus, gendut, odong odong cute, ya gitu lahh. Demi Tuhan pasti gue kangen banget sama kalian. Wassalam

God

gue nggak tau mau bilang apa ya sama Tuhan, Dia baiknya..... baik banget sampai nggak bisa gue deskripsikan dengan kata-kata. Dia selalu ngasih yang baik, bantu gue menghindari yang buruk, warn gue kalau gue salah even though gue sering ngambek akan hal itu. gue sering marah sama Tuhan ketika gak di kasih ini, atau itu. tapi finally gue tau. maksud Tuhan baik. Dia pingin ngasih yang BEST buat gue, tapi nggak BEAST. Nunggu. itu yang lagi gue pelajarin sekarang. kebahagiaan gak bisa gue dapet dengan cepat. pasti ada proses for reach that word, "HAPPINESS".
Gue gak pernah sadar sampai akhirnya suatu hari gue tau bahwa dibalik semua masalah yang gue hadapin, pasti ada jalan keluarnya, sekaligus ada hikmah yang bisa gue petik dari situ untuk jalanin hidup gue selanjutnya.
God gak pernah salah dan gak pernah mau jerumusin kita ke dalam lubang api. tapi kita, tergoda buat masuk ke sana. gimana cara nyegah kita? bukan dari siapa siapa. tapi dari kita. Kuatin iman sampai lo tau tujuan hidup lo sebenarnya.

Love my God, Allah SWT :)

Senin, 28 November 2011

Halo :)

yap, jadi ini pertama kalinya gue bikin blog. agak galau sih atas darah gaptek yang mengalir dalam diri gue, tapi karena gue mau dan penasaran sama blog, akhirnya terciptalah blog yang internetnya numpang di rumah tetangga, ya biasa lah. sebenarnya ini lagi kerja kelompok tentang HTML yang bikin gue muntah rumus, tapi sekali lagi, karena ketertarikan gue sama blog, gue bela-belain nyolong internet di rumah dia.(Sorry ya Nata. Gue cinta sama (internet) lo !)


Di sini gue bakal share cerita-cerita gue, curhatan gue dan semua-semuanya tentang gue. Emang gak penting sih ya, tapi ya gitu deh. So, silahkan menikmati tulisan tulisan gue yang niscaya menarik untuk dibaca. Wassalam :)