Selasa, 13 Desember 2011

Antonius lagi

Oke, Antonius gak marah sama Aliong, dia gak ngacangin Aliong. Dia cuma ngomelin Angel dan gue bingung kenapa dia ngomelin Angel. Antonius gak pernah marah, gue mau ngapain kek terserah gue. Dia cuma cemburu yang berlebihan makanya dia gak mau kasih tau gue. Puas.....??????????? selesai  dngan ini hhaha

Jumat, 09 Desember 2011

Antonius

ya, kali ini postingan gue tentang Antonius yang pernah gue ceritain sebelumnya....
dia emang gak pinter, dia nakal, suka bikin onar, dan sebagainya. Dia baik banget tapinya. lucu kadang belagu yah unyuu gitu deh hahahaha
kenapa gue suka sama dia? em, suka aja cara doi memperlakukan gue hahahaha semoga aja ya dia bisakayak dulu lagii :(

Kamis, 01 Desember 2011

Aliong

well, kali ini gue bakal lanjutin postingan gue sebelumnya.
Jadi, ceritanya gue punya temen sahabat cowok. sebut aja namanya Aliong, anak penjual martabak cinta atau apalah itu. Gue deketnya pake banget banget sama dia. Ibarat celana sama kolor, gak mungkin gue keluar tanpa kolor dan gak mungkin juga cuma pake kolor alias gak pake celana. Sedeket itulah relasi kita (ya gak segitunya sih ya). Tapi tetep aja gue lebih deket sama kasmarannya, sebut aja namanya Angel, ya sebaik orangnya. Gue sayang banget sama sahabat gue yang satu ini. Dia selalu ada buat gue, baik suka maupun duka. Ya, dia bener bener sosok sahabat yang gue idam-idamkan.

Sekarang topiknya tentang si Aliong ya. Jadi intinya, Antonius itu Jealous sama Aliong ! OMAGAH! Ngapainnn?????? alasan kenapa gue tanya ngapain adalah :

  1. Gue gak mungkin makan sahabat gue sendiri
  2. Gue gak mungkin pacaran sama kolor gue *eh
  3. Gue udah gak ada hubungan sama Antonius
  4. Aliong sahabatnya Antonius juga !
Harusnya Antonius tau dong posisi gue? dia Jealous gara-gara Aliong bercandanya kelewatan sampai nyubit nyubit pipi gue. So What?? Aliong sahabat gue ! dia udah kayak sodara gue ! Tapi kenapa dia sampai marah sama Aliong?? Kenapa harus update status di facebook bak anak alay kayak gini, "temen apaan lo? sampah." ? Kenapa harus ngatain sampah? kenapa harus Aliong? Gue sedih sama keadaan Aliong yang gak tau apa apa tentang persoalan gue, tapi dia sampe di kacangin sama Antonius. Prihatin banget gue. Aliong emang belum tau, tapi kalau dia sampai tau berabe juga, pasti ribut.

Ya Allah, sumpah ya. Gue keselnya pake banget banget. Oke, dia sayang sama gue, tapi kayak forsir gue untuk gak boleh bergaul sama temen temen cowok gue. Hello???? I'm a teen ! Nyokab gue aja gak pernah larang gue untuk main sama cowok asalkan gak main yang seronok seronok. Nah dia? Istilahnya bukan siapa siapa gue, tapi kayak gitu. Kesel banget sumpah !

Yang bikin gue tambah kesel adalah ketika gue harus nanggung rasa malu gue saat di cengin sama temen-temen yang lain. Lo tau gakk?? Dia update status di facebook, yang isinya "Kangen dipanggil sayang." masyallah, terus dia juga nanya gue, kenapa gue gak panggil dia sayang lagi. udah jelas kita gak ada apa-apa, itu pertama. yang ke dua, itu penting gak sih?

gue kasian juga sih sama Antonius. Ya semoga aja dia bisa ketemu yang lebih baik daripada gue dan bisa kayak dulu lagi. Amin.

-________-

Oke, kali ini gue mau cerita tentang seseorang yang cukup berperan aktif dalam menghancurkan hidup gue. Menghancurkan di sini maksudnya emmm, cukup bikin pusing ya, emm gitulah..
Tepat tanggal 9-11-11, gue jadian sama dia. Sebut aja namanya Antonius. Sebenarnya gue juga sempet punya cerita sama dia setahun yang lalu. Tapi kandas karena masalah masalah ruwet yang udah mencoret coret dinding kehidupan gue. Setelah itu gue sahabatan sama Antonius. Sampai kita deket yang udah bukan sahabat lagi. Gue comfort mampus sama dia awalnya. Gue ngerasa dia bisa banget bkin gue ketawa (walaupun belum bisa ngalahin Sule), dan ngelindungin gue bak pangeran pangeran yang ada di negri dongeng gitu *eh. Atas kecintaan gue sama Disney yang gak wajar, akhirnya gue jatuh ke lubang yang udah pernah gue jatuhin sebelumnya dengan harapan di dalam lubang itu, gue bisa bangun istana kebanggan gue sendiri dengan cara gue pastinya.

Tapi gue salah. Masalah makin mengkruel gak karu-karuan. Seminggu kemudian gue putusin dia dengan alasan kalau gue mesti fokus sama apa yang lagi gue jalanin sebelum gue jadian. Hal penting yang mau gue raih dan gue impi-impikan pake banget banget. Gue sadari itu setelah ada seorang Jendes berisik (bukan nyokab) yang ngasih petuah yang ngalir banyak kayak orang mencret dan pertama kalinya, kalimatnya itu bermutu. Gue denger 1 kalimat penting yang bener bener gue serap sampai sari sarinya, "Manusia gak bisa berdiri di dua perahu yang jalurnya beda dalam waktu bersamaan." Gue langsung galau. Akhirnya gue makan. Tapi tambah galau ketika gue sadar P3B gue, alias Perut Paha Pantat Betis bentuknya udah gak bisa dideskripsiin lagi.

Ya, gue harus fokus. Gue sadar pacaran udah nyita waktu dan seluruh perhatian gue buat mantengin hape. Di samping itu, cowok ini agak Possessive ya. Kadang gue capek, tapi gue coba survive. Udah coba se-survive apa juga ternyata emang tetep gak bisa. Gue juga kasian sama dia. Gue kadang sibuknya keterlaluan sampai gak bisa bales sms dia yang udah numpuk jadi 12 messages (ya sebenarnyaa sih gak segitunya ya) yang isinya sama. 5 sms terakhir isinya :

  • "Kamu di mana sih?"
  • "Kok gak di bales?"
  • "Sibuk banget ya?"
  • ":'(((("
  • "ahhh..."
Ya begitulah kira kira. Setelah putus gue minta dia jangan pernah berubah kayak lagunya ST 12. Tapi tetep gak bisa dia lakuin, sama persis kayak ST 12 yang eksistensinya udah rada redup karena........ karena apa gue gak tau dan gak peduli juga.

Ok, balik ke topik. Sambil minum estehduagelas gue galau lagi. Kenapa dia jadi sensi banget ya? Ya, sensinya emang berlebihan segede mall Sency. kenapa gue bisa bilang gitu?

nahh, tunggu post gue selanjutnya ya :)

Lemah dan Siti

 “Roy, kamu udah siap belum?”
Suasana sore yang sejuk membuatku semangat pergi hari ini. Suara mobil bermesin diesel telah terdengar. Setumpuk barang barang telah dimasukan ke dalam mobil.
Hari ini aku akan pulang ke rumah nenekku yang ada di desa. Provinsi Jawa Tengah, kabupaten Pemalang, bersama.... hmmm.. Pacarku, Roy. Ini kali pertamanya aku membawa Roy ke tempat nenekku. Ia sangat tertarik dengan semua hal yang aku cerikan tentang desa. Maklum, dia adalah orang kota tulen yang tak punya kampung halaman.
Aku berdiri dan terbalut dalam sebuah kaos dan jaket berwarna kuning dengan bawahan blue jeans. Melihat ke arah jam tangan beberapa kali dan melihat ke dalam pintu rumahku. Menunggu Roy yang sedang merenung di dalam toiletku dalam keadan tanpa celana dan mengeluarkan kotoran kotoran menjijikan dari bokongnya.
Roy kamu lama banget!” teriakku ketika melihat seorang lelaki tampan dengan rambut ala Justin Bieber, mengenakan jaket berwarna abu abu dan blue jeans. Tersenyum dan masuk ke dalam mobilah yang dipilihnya untuk menghindari omelanku.
Aku hanya menggeleng dan mengikutinya masuk ke dalam mobil, lalu duduk dan langsung mengenakan sabuk pengaman. Roy sudah siap menyetir mobil ini untukku. Mobil Touring yang gagah ini pun melesat pergi.
*
tebing tebing curam sudah terlihat di sepanjang jalan. Di bawah jalan adalah jurang. Aku sedikit takut karena memikirkan hal yang tidak tidak. Tapi aku melupakannya ketika melihat bukit bukit yang indah mengelilingi jalan ini.
Dalam perjalanan, aku hanya menikmati pemandangan sekitar sambil menyanyikan lagu kebangsaanku. I just need somebody to looovee. Lagu yang dinyanyikan artis kesukaanku. Bahkan aku sempat tergila gila dengannya sebelum aku mengenal Roy. Yah. Justin Bieber, yang mirip dengan Roy. Aku bersyukur akan itu.
Suaraku yang cempreng membuat Roy menutup telinganya. Aku meekuk mukaku hingga terlihat seperti orang idiot yang kesal. Roy hanya mengelus kepalaku dengan lembut. Aku suka caranya menghiburku.
Tiba tiba mobil yang kami naiki berhenti. Aku sedikit kaget, lalu melirik Roy yang terlihat kebingungan.
Mogok.” katanya singkat.
Aku menghela nafas dengan keras. Roy segera keluar dari mobil dan memeriksa mesinnya. Aku mengikuti langkahnya untuk keluar dari mobil dan melihat mesin yang sama sekali tidak aku mengerti.
Kenapa?” tanyaku polos.
Enggak tau. Tiba tiba mogok. Padahal engga ada masalah.” katanya sambil terus memperhatikan mesin mobil.
Jalanan sangat sepi saat itu. Tak ada satu pun mobil yang melewati kami. Aku sedikit menggigil karena angin cukup kencang saat itu. Seperti mau menerbangkan aku, Roy dan juga mobil milik Roy.
Roy yang melihatku menggigil menyuruhku segera masuk ke dalam mobil. Aku menurtinya saja agar aku tidak membuat lelaki itu repot karena aku yang sakit.
Ketika aku membuka pintu mobil, tiba tiba mobil Touring itu menyala kembali. Mesinnya yang bersuara keras mengagetkanku. Roy menatap ke arahku dengan pandangan aneh. Lalu masuk ke dalam mobil. Sama seperti apa yang aku lakukan. Ekspresi wajahnya terlihat khawatir. Aku mengenggam tangannya. Dia hanya tersenyum masam. Lalu mobil kembali di jalankan.
Sore telah menjelang malam dan kami belum sampai di rumah nenek. Tak ada perbincangan di dalam mobil. Yang ada hanya rasa ketakutan yang melanda saat kejadian tadi. Perasaanku tidak enak dan tambah tidak enak lagi ketika melihat sebuah pohon yang sanga besar dan menyeramkan.
Tiba tiba seorang ibu ibu cantik berbaju merah darah dengan rambut panjang menyebrang jalan tanpa melihat kanan kiri. Roy kalap dan membanting stir ke arah jurang. Dan, kami pun jatuh ke jurang bersama mobil kami. Wanita itu, tidak ada lagi.
*
”Roy! Kamu gimana sih nyetirnya!!!!”
kami selamat dari kecelakaan itu. Badanku berlumuran darah bercampur dengan lumpur. Roypun begitu. Sekarang kami terjebak di jurang. Untuk mencapai jalanan tadi sangat tinggi. Aku tak tahu jalan lain untuk keluar selain memanjat.
Aku kesal dengan Roy karena tidak hati hati menyetir mobil. Kamipun terlibat percekcokan yang rumit. Aku memilih meninggalkan Roy yang sibuk sendiri dan massuk ke dalam hutan. Aku menangis kesal.
Tiba tiba, seorang anak kecil mendatangiku. Dia sangat cantik dan mengenakan pakaian model tahun 80an.
”kok, nangis?” tanyaa lembut.
”aku ribut sama pacarku,” jawabku polos sambil tetap menangis.
“ini bukan salah pacarmu. Ibuku yang salah. Sekarang aku tunjukan jalan keluar dari sini.” kata gadis itu.
masuk ke dalam hutan, dan panjatlah bukit bukit yang ada dan kau akan menemukan jalan yang tadi kau lewati. Setelah menemukan jalan itu, kau akan melihat sebuah pemukiman warga, dan carilah bantuan di sana. Sekarang temui pacarmu dan meminta maaflah karena kau telah menyalahkannya” kata gadis kecil itu.
Aku bingung dengan gadis kecil. Dia muncul tiba tiba dari dalam hutan. Aku sedikit bergidik. Lalu gadis itu tersenyum dan berbalik memasuki hutan.
maafkan ibuku yang telah mencelakaimu ya. Dia memang iseng” kata gadis itu lalu tertawa seram.
siapa namamu?” teriakku sebelum ia pergi lebih jauh.
lemah” jawabnya, lalu hilang ke dalam hutan.
Lemah? Nama yang aneh gumamku. Aku segera pergi menemui Roy, lalu memeluknya dan meminta maaf padanya.dia tersenyum dan membalas pelukanku. Lalu aku menggandeng tangannya, dan pergi dari tempat itu. Mengikuti jalan yang di tunjukan gadis itu. Benar, kami sampai di jalan tadi dan melihat sebuah pemukiman warga. Kami segera berjalan ke sana dengan susah payah.
Aku mengetuk sebuah rumah dan seorang bapak bapak menatap kami berdua. Dia sedit terkejut ketika melihat kami yang berlumuran darah dan lumpur. Si bapak mempersilahkan kami masuk dan kami menceritakan semua yang terjadi. Seorang perempuan keluar dari dalam sambil membawa nampan berisi teh. Lalu ikut duduk bersama kami. Aku juga menceritakan tentang gadis kecil yang aku temui. Roy cukup kaget mendengar ceritaku.
untung kalian selamat.” kata si bapak sambil mendesah.
Apa maksudnya? Gumamku.
Yang kalian lihat itu adalah sesosok mahkluk ghoib, ” kata si ibu.
Apaa?
Ya.. mereka itu adalah setan. Setiap tahun mereka mengambil nyawa orang orang yang melewati jalan itu. Kadang mereka juga suka mengisengi warga di kampung ini. Mulai dari mengotori setiap rumah, memesan makanan dari warung dan membayarnya dengan daun, sampai menculik anak anak desa. Mereka benar benar jahat. Tapi untunglah kalian selamat. Karena tak pernah ada orang yang selamat jika sudah bertemu mereka.” jelas bapak itu.
Bulu kudukku berdiri mendengar cerita si bapak. Aku menggenggam tangan Roy yang dingin dan memeluknya erat dengan ekspresi wajah kami yang pucat pasi.
Dari dulu aku tak pernah percaya dengan hal seperti itu. Tapi ternyata hal seperti itu memang ada dalam dunia ini.
Ya,, memang mereka berdua adalah pohon. Pohon besar menyeramkan yang aku lihat tadi dan sebuah anak pohon di sampingnya. Nama sang ibu adalah Siti, yang berarti tanah. Diambil dari bahasa jawa halus atau kromo. Dan si gadis itu, bernama Lemah. Yang artinya tanah. Sama seperti ibunya. Di ambil dari bahsa jawa sehari hari atau bahasa jawa yang kasar.

******

Agung (part 2)

 Sore ini ada pertandingan sepak bola di kampungku. Biasa. Setiap awal bulan pasti akan ada pertandingan sepak bola. Pesertanya tidak hanya dari kalangan anak-anak lelaki saja, para lelaki dewasa juga ikut serta. Acara ini memang khas Kampung kecil Rawa Ban ban. Untuk menunjukan rasa kekeluargaan dan kekompakan antara orang dewasa.
Tim yang ikut serta di bagi 2 kelompok. Setiap kelompok harus ada orang dewasa dan anak kecilnya. Mereka harus saling bekerja sama untuk memenangan pertandingan, para kaum hawa hanya menontomn di pinggir lapangan sambil menggendong anak perempuan yang mereka punya. Kadang para kaum hawa sedikit memberi tarian seperi cheerleaders yang biasanya ada pada pertandingan pertandingan besar.
Pertandingan bola kampung Ban Ban (sebutan bagi pertandingan bola khas Rawa Ban Ban ini) akan segera di mulai..
Masing-masing tim terdiri dari 11 orang.
Yang berada di timku adalah Parman ; yang menjadi striker 1 , Mas Joko ; sayap kanan, Om Eko ; sayap kiri, Samsu ; back 1, Mamat ; back 2, Rahmat; gelandang 1, Pak Amin ; gelandang 2, Mas Iin; back 3, Bang Tigor; back 4, Tono ; kiper dan aku sebagai striker 2.
Pertandingan di mulai. Bola pertama ada pada timku, Om Eko berlari sambil menendang bola. Para musuh menghadang, Om Eko menendang bola ke arah Mas Joko, lalu di oper lagi ke Mas Iin, lalu Bang Tigor. Permainan yang kami lakukan penuh dengan kerja sama tim. Setelah itu, giliranku untuk menendang bola daaaaaann ............ GOAALL...
Goal pertama di cetak oleh timku. Para ibu-ibu pendukung itu mulai meanari lagi sambil bersorak.
Permainan dilanjutkan. Pertandingan berlangsung dengan amat seru. Pars pemain terlihat hebat saat memainkan bola. Termasuk aku. Hehe. Goal kedua kami cetak lagi. Para pendukung mulai lagi dengan lagu dan tariannya.
Aku baru sadar, ternyata Emak menonton pertandingan boal ini dari kejauhan. Beliau tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya. Sebelum ini, Emak paling benci dengan pertandingan sepak bola. Beliau bilang hanya orang bodoh yang mau bermain sepak bola. Alasannya mengatakan sepak bola adalah permainan bodoh memang sedikit masuk akal. Beliau bilang, untuk apa bola kecil yang tak ada artinya itu di kejar kejar, di perebutkan seperti primadona oleh 2 tim yang masing masing terdiri dari 11 pemain. Padahal bola itu hanya permainan anak kecil yang tak berarti. Alasan yang angat lucu. Tapi, sebagai penggemar bola, aku tak setuju dengan perkataan Beliau.
Pertandingan semakin seru. Para pemain semakin lama semakin bersemangat sehingga permainan ini menjadi panas. Dan Goal ke 3 di cetak kembali oleh timku. Para orang dewasa yang bermain dalam timku dengan gilanya menggendong anak anak yang bermain dalam tim ini. Sangat seru dan menyenangkan.
Pertandingan pun berakhir dengan skor 3-0. Angka 3 untuk timku. Tim pemenang mendapatkan piala dan piala itu di berikan kepadaku sebagai ketua tim. Para pemain yang berada dalam timku dengan senang hati memberikan pialanya padaku karena aku paling banyak mencetak goal. Perempuan yang dari tadi melihatku dari kejauhan itu tersenyum bangga padaku. Aku bisa merasakannya.


*


Hari sudah larut. Aku kembali ke rumah dengan keadaan kotor dan bau sambil membawa piala dan terus tersenyum. Ku letakan piala itu bersama piala piala lain yang ku dapat di atas lemari buku tuaku yang besar. Ku pandangi sekali lagi dan tersernyum bangga. Aku segera melesat mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Kulepas baju kotor nan dekil itu dan mulai menyirami tubuhku dengan air segar.
Setelah selesai mandi, aku kembali menjemur handukku lalu ke ruang makan. Terlihat disana kedua orang tuaku yang tersenyum dan ku lihat juga di meja makan, ada nasi putih, ayam goreng, tempe becek dan,,, waaaaawwwwww..... Semur jengkol bikinan Emak. Kesukaanku. Makanan yang paling enak se-Tangerang. Aku segera melahapnya dengan rakus. Tak lupa aku membaca doa sebelum makan tadi. Bapak dan Emak hanya tersenyum melihatku.
”Makannya pelan-pelan dong, kaya dikejar anjing aja. Nanti keselek loh.” kata Emak memperingatkan.
Aku hanya tersenyum dan kembali menyantap makananku.
”Alhamdulilah.. Kenyang. Makananya enak banget Mak,” kataku.
Emak tersenyum sangat manis. Beliau memang terlihat sangat cantik kalau sedang tersenyum. Beliau adalah wanita tercantik se-Tangerang yang pernah kulihat.
Setelah selesai makan, aku segera masuk ke kamarku. Aku harus mengerjakan PR yang di berikan oleh guru tergalak yang ada di sekolahku. Aku tak berani sekalipun untuk tidak mengerjakan tugas yang Beliau berikan.
Jam sudah menunjukan pukul 9 malam. PR ku sudah ku selesaikan lalu kumasukan ke dalam tas ku yang usang. Buku-buku sudah aku rapikan sesuai jadwal pelajaran yang ada. Sekarang waktunya bagiku untuk tidur di atas kasur bulukku. Ku lirik celengan ayam yang berada di atas meja belajarku. Sudah berapa banyak uang yang sudah aku kumpulkan ya? Uang itu mau aku apakan ya? Aku tak tahu. Aku menjatuhkan diri di kasur dan segera tertidur.


*


Pagi ini, aku harus menjalankan misiku dan membantu Agung. Aku sudah menceritakan hal ini terhadap Sarah. Dan dia bersedia membantuku untuk menjalankan misi ini.
Jam sekolah menunjukan pukul setengah 7 pagi. Sarah dan aku duduk di depan ruang kepala sekolah untuk membicarakan tentang Agung. Dari kejauhan kulihat Pak Amir, pak kepala sekolah, dari kejauhan, mengayuh sepeda ontelnya. Lalu memakirkan sepedanya di tempat parkiran. Rata-rata guru-guru di sekolah kami membawa sepeda ke sekolah. Maklum. Gaji di sini kecl sehinggs mereka tak mampu membeli motor atau mobil. Biarpun gaji mereka kecil, mereka tetap bertahan di sini karena mereka sama dengan Pak Kusni, si penjaga sekolah, mencintai kami dan sekolah ini.
Aku dan Sarah mencium tangan Pak Amir.
Pak Amir mempersilahkan kami masuk ke ruangannya.
”Anak-anak, apa yang ingin kalian bicarakan dengan bapak?”
begini Pak, saya mempunyai teman bernama Agung. Dia seorang anak kecil yang bekerja sebagai pemulung. Ayahnya sudah meninggal dan ibunya mengalami gangguan jiwa. Sekarang dia tinggal bersama neneknya yang bekerja sebagai tukang pijta keliling. Dia benar benar miskin Pak. Untuk makan saja dia susah.”
”betul Pak. Bapak tahu kan keadaan ekonomi keluarga saya? Agung lebih parah dari saya Pak.” kata Sarah dengan suara lirih.,
”Benar Pak. Tetapi dia mempunyai semangat yang tinggi untuk bersekolah. Biarpun dia nggak sekolah, dia bisa membaca dan menulis. Pengetahuannya juga luas Pak. Terbukti kan Pak, kalau anak itu mau belajar? Maka itu pak, kami mohon dengan sangat sama bapak. Izinkan dia untuk bersekolah di sini tanpa anggaran apapun.” tuturku.
Pak Amir kaget mendengar permohonan kami. Beliau menggeleng. Beliau yang membangun sekolah ini tidak bisa menerima ini.
”Sulit untuk melakukan hal itu Din.”
”kenapa?” tanya Sarah geram.
apa bapak tega membiarkan anak itu mendengar cerita kami? Dia butuh pertolongan bapak. Dia harus sekolah agar berguna nantinya di masa depan.” kata Sarah.
Suasana hening.
”pak, saya akan bayar keperluan Agung di 2 bulan ini, kalau dia terbukti pintar, bapak harus memberikan beasiswa padanya. Tapi kalau dia tidak bisa, keluarkan dia.” kataku tegas.
Pak Amir dan Sarah kaget dengan perkataanku. Lalu sarah mengangguk. Pak Amir pun setuju dengan keputusan yang aku buat. Semua ini demi prinsip yang akan aku jalani.


*


”serius kamu Din?”
Aku mengangguk.
”waahh.. terimakasih Tuhan, akhirnya Tuhan menjawab doa Agung. Terimakasih.”
Aku tersenyum.
Siang ini tak sepanas biasanya. Aku duduk di bawah pohon beringin bersama Agung yang sedang tersenyum senang mendengar bahwa dia akan mendapat beasiswa apabila dalam 2 bulan ini dia lulus tes. Aku tidak memberitahunya bahwa aku yang akan membayar uang tes dan segalanya ini selama 2 bulan. Sarah sudah pulang duluan tadi. Dia tidak pulang bersamaku lagi karena dia harus ke tempat Ayahnya.
Din, ke rumahku yuk. Aku perkenalkan nanti sama Mbok Minah.” katanya.
Aku mengangguk.
Kami berjalan bersama menuju rumah Agung. Jalannya hancur dan lebih kotor dari jalan sekitar rumahku.
Akhirnya kami tiba di depan rumah Agung. Kami masuk ke dalam.
”Mbok, Agung bawa temen nih.”
Sesosok wanita tua keluar dari kamar. Itu dia Mbok Minah. Beliau tersenyum melihatku.
”eh, den Udin.”
”ia Mbok.” sahutku sambil tersenyum.
”kalian udah saling kenal?” tanya Agung.
”Emaknya Udin itu langganan Mbok Gung.”
”ohhhh..”
”biar Mbok bikinin teh ya.”
“enggak usah mbok. Mbok duduk aja di sini.” kataku.
”ia Mbok. Mbok,, Agung punya kejutan buat Mbok, Agung bakal sekolah mbok. Udin daftarin Agung di sekolah Jurumudi dan Agung bakal dapet beasiswa Mbok. Tapi Agung harus tes dulu selama 2 bulan. Kalau Agung lulus tes, Agung bakal dapet beasiswa selamanya sampai Agung lulus di sekolah SD Jurumudi. Tapi kalau Agung gak lulus tes, Agung gak bisa sekolah lagi Mbok.” tutur Agung panjang lebar.
Mata Mbok berkaca-kaca. Segelintir air mata jatuh di pipinya yang keriput. Mulutnya terus berucap Alhamdulilah. Agung memeluk Mbok Minah. Aku tak tega melihat pemandangan ini. Terlalu mengharukan.
Hari sudah sore. Aku harus pulang. Aku segera pamit pulang. Mbok Minah memelukku dan menangis lagi. Dia berkali-kali mengucapkan terimakasih padaku. Aku hanya mengangguk dan tersenyum.


*


Aku memegang celengan ayamku yang sudah ada sejak aku TK. Bapak dan Emak memang sudah mengajariku menabung dari kecil.
Ini pilihan. Aku harus menghancurkan celengan ini dan memberikan uangnya kepada Agung atau tetap menyimpannya. Aku terus memeganginya. Dan ku bulatkan tekadku. Ku lempar celengan ayan itu dan keluarlah uang-uang yang sudah kutabung bertahun-tahun itu.
Kukumpulkan uang-uang itu dan kuhitung. Ada Rp. 3.950.000,00. Aku menaruhnya di dalam amplop dan kusimpan di dalam tas sekolahku. Segera ku rapikan pecahan celengan yang ada dan ku buang itu. Lalu aku segera terlelap di kasur bulukku seperti biasa.


*


ini uangnya pak. Biaya tes Agung.”
Pagi-pagi sekali aku sudah datang dan langsung kutemui Pak Amir. Dia kaget dan tersenyum bangga padaku.
”besok dia akan sekolah di sini”.


*


Besok dateng langsung ke sekolah ya Gung. Ini buku, seragam dan alat tulis yang di berikan sekolah. Belajar yang bener ya.” kataku.
”makasih banyak ya Din! Kamu emang teman yang baik.”
”sama-sama”


*


”Din, emak mau tanya sama kamu. Celengan ayam kamu udah kamu pecahin ya.”
Aku kaget dengan pertanyaan Emak.
Aku mengangguk.
”kamu apakan uangnya nak?” tanya emak lembut.
emak jangan marah sama Udin ya. Itu Udin kasih buat cucunya Mbok Minah. Dia pingin sekolah. Jadi duitnya Udin kasih ke dia Mak. Maafin Udin ya Mak.” tuturku merasa bersalah.
Emak tersenyum memandangku. Beliau mengelus kepalaku dengan halus sambil mengangguk. Ku lihat Bapak tersenyum dan mengancungkan jempolnya padaku.
”Nanti Emak belikan celengan yang baru, jangan lupa untuk terus menabung ya nak.”
”iaa mak. Makasih”


*


Agung berangkat sekolah dengan ku dan Sarah. Dia sekelas dengan kami. Kelas 5a. Aku yakin dia akan lulus tes karena dia anak yang sangat pintar. Aku dan Sarah terus memperhatikan cara Agung belajar. Dia memiliki kemajuan yang sangat pesat. Dia bisa seperti itu karena dia mempunyai niat sekolah yang tinggi.
Di kelas dia selau melakukan dan menjawab apa yang tidak bisa murid lain lakukan dan murid lain jawab. Dia benar-benar jenius. Nilainya rata-rata 9 . Dia juga sering mendapat nilai 100 dalam pelajaran. Tak sia-sia aku membayar uang tesnya.
Tak terasa 2 bulan telah dia lewati di sekolah SD Jurumudi ini. Ini saatnya pak Amir menentukan apakah Agung bisa mendapat beasiswa ini.
”Agung,”
”ia Pak.”
”prestasi kamu sangat memuaskan. Bapak sangat bangga dengan nilai-nilaimu.”
”terimakasih pak.”
”baiklah,, kamu........... berhak mendapatkan beasiswa ini.”
”alhamdulilah... terimakasih Tuhan” sorak Agung kegirangan.
Dia segera menjabat tangan Pak Amir dan mengucapkan terimakasih.
Saat keluar dari ruangan Pak Amir, dia segera memelukku dan juga Sarah. Kami terharu melihatnya.
Dan akhirnya, dia menjadi siswa tetap Sekolah SD Jurumudi ini.
Kami bertiga; aku, Sarah dan Agung, bertekad.. kami akan membuktikan bahwa orang kampung Rawa Ban-Ban yang beradah di tengah kota Tangerang ini dapat melebihi orang-orang besar yang kaya dan sombong itu. Kami akan membuat mereka terkejut. Ini adalah cita-cita kami dan pasti akan terwujud nanti. Kami yakin....................








Tamat