Kamis, 01 Desember 2011

Agung (part 2)

 Sore ini ada pertandingan sepak bola di kampungku. Biasa. Setiap awal bulan pasti akan ada pertandingan sepak bola. Pesertanya tidak hanya dari kalangan anak-anak lelaki saja, para lelaki dewasa juga ikut serta. Acara ini memang khas Kampung kecil Rawa Ban ban. Untuk menunjukan rasa kekeluargaan dan kekompakan antara orang dewasa.
Tim yang ikut serta di bagi 2 kelompok. Setiap kelompok harus ada orang dewasa dan anak kecilnya. Mereka harus saling bekerja sama untuk memenangan pertandingan, para kaum hawa hanya menontomn di pinggir lapangan sambil menggendong anak perempuan yang mereka punya. Kadang para kaum hawa sedikit memberi tarian seperi cheerleaders yang biasanya ada pada pertandingan pertandingan besar.
Pertandingan bola kampung Ban Ban (sebutan bagi pertandingan bola khas Rawa Ban Ban ini) akan segera di mulai..
Masing-masing tim terdiri dari 11 orang.
Yang berada di timku adalah Parman ; yang menjadi striker 1 , Mas Joko ; sayap kanan, Om Eko ; sayap kiri, Samsu ; back 1, Mamat ; back 2, Rahmat; gelandang 1, Pak Amin ; gelandang 2, Mas Iin; back 3, Bang Tigor; back 4, Tono ; kiper dan aku sebagai striker 2.
Pertandingan di mulai. Bola pertama ada pada timku, Om Eko berlari sambil menendang bola. Para musuh menghadang, Om Eko menendang bola ke arah Mas Joko, lalu di oper lagi ke Mas Iin, lalu Bang Tigor. Permainan yang kami lakukan penuh dengan kerja sama tim. Setelah itu, giliranku untuk menendang bola daaaaaann ............ GOAALL...
Goal pertama di cetak oleh timku. Para ibu-ibu pendukung itu mulai meanari lagi sambil bersorak.
Permainan dilanjutkan. Pertandingan berlangsung dengan amat seru. Pars pemain terlihat hebat saat memainkan bola. Termasuk aku. Hehe. Goal kedua kami cetak lagi. Para pendukung mulai lagi dengan lagu dan tariannya.
Aku baru sadar, ternyata Emak menonton pertandingan boal ini dari kejauhan. Beliau tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya. Sebelum ini, Emak paling benci dengan pertandingan sepak bola. Beliau bilang hanya orang bodoh yang mau bermain sepak bola. Alasannya mengatakan sepak bola adalah permainan bodoh memang sedikit masuk akal. Beliau bilang, untuk apa bola kecil yang tak ada artinya itu di kejar kejar, di perebutkan seperti primadona oleh 2 tim yang masing masing terdiri dari 11 pemain. Padahal bola itu hanya permainan anak kecil yang tak berarti. Alasan yang angat lucu. Tapi, sebagai penggemar bola, aku tak setuju dengan perkataan Beliau.
Pertandingan semakin seru. Para pemain semakin lama semakin bersemangat sehingga permainan ini menjadi panas. Dan Goal ke 3 di cetak kembali oleh timku. Para orang dewasa yang bermain dalam timku dengan gilanya menggendong anak anak yang bermain dalam tim ini. Sangat seru dan menyenangkan.
Pertandingan pun berakhir dengan skor 3-0. Angka 3 untuk timku. Tim pemenang mendapatkan piala dan piala itu di berikan kepadaku sebagai ketua tim. Para pemain yang berada dalam timku dengan senang hati memberikan pialanya padaku karena aku paling banyak mencetak goal. Perempuan yang dari tadi melihatku dari kejauhan itu tersenyum bangga padaku. Aku bisa merasakannya.


*


Hari sudah larut. Aku kembali ke rumah dengan keadaan kotor dan bau sambil membawa piala dan terus tersenyum. Ku letakan piala itu bersama piala piala lain yang ku dapat di atas lemari buku tuaku yang besar. Ku pandangi sekali lagi dan tersernyum bangga. Aku segera melesat mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Kulepas baju kotor nan dekil itu dan mulai menyirami tubuhku dengan air segar.
Setelah selesai mandi, aku kembali menjemur handukku lalu ke ruang makan. Terlihat disana kedua orang tuaku yang tersenyum dan ku lihat juga di meja makan, ada nasi putih, ayam goreng, tempe becek dan,,, waaaaawwwwww..... Semur jengkol bikinan Emak. Kesukaanku. Makanan yang paling enak se-Tangerang. Aku segera melahapnya dengan rakus. Tak lupa aku membaca doa sebelum makan tadi. Bapak dan Emak hanya tersenyum melihatku.
”Makannya pelan-pelan dong, kaya dikejar anjing aja. Nanti keselek loh.” kata Emak memperingatkan.
Aku hanya tersenyum dan kembali menyantap makananku.
”Alhamdulilah.. Kenyang. Makananya enak banget Mak,” kataku.
Emak tersenyum sangat manis. Beliau memang terlihat sangat cantik kalau sedang tersenyum. Beliau adalah wanita tercantik se-Tangerang yang pernah kulihat.
Setelah selesai makan, aku segera masuk ke kamarku. Aku harus mengerjakan PR yang di berikan oleh guru tergalak yang ada di sekolahku. Aku tak berani sekalipun untuk tidak mengerjakan tugas yang Beliau berikan.
Jam sudah menunjukan pukul 9 malam. PR ku sudah ku selesaikan lalu kumasukan ke dalam tas ku yang usang. Buku-buku sudah aku rapikan sesuai jadwal pelajaran yang ada. Sekarang waktunya bagiku untuk tidur di atas kasur bulukku. Ku lirik celengan ayam yang berada di atas meja belajarku. Sudah berapa banyak uang yang sudah aku kumpulkan ya? Uang itu mau aku apakan ya? Aku tak tahu. Aku menjatuhkan diri di kasur dan segera tertidur.


*


Pagi ini, aku harus menjalankan misiku dan membantu Agung. Aku sudah menceritakan hal ini terhadap Sarah. Dan dia bersedia membantuku untuk menjalankan misi ini.
Jam sekolah menunjukan pukul setengah 7 pagi. Sarah dan aku duduk di depan ruang kepala sekolah untuk membicarakan tentang Agung. Dari kejauhan kulihat Pak Amir, pak kepala sekolah, dari kejauhan, mengayuh sepeda ontelnya. Lalu memakirkan sepedanya di tempat parkiran. Rata-rata guru-guru di sekolah kami membawa sepeda ke sekolah. Maklum. Gaji di sini kecl sehinggs mereka tak mampu membeli motor atau mobil. Biarpun gaji mereka kecil, mereka tetap bertahan di sini karena mereka sama dengan Pak Kusni, si penjaga sekolah, mencintai kami dan sekolah ini.
Aku dan Sarah mencium tangan Pak Amir.
Pak Amir mempersilahkan kami masuk ke ruangannya.
”Anak-anak, apa yang ingin kalian bicarakan dengan bapak?”
begini Pak, saya mempunyai teman bernama Agung. Dia seorang anak kecil yang bekerja sebagai pemulung. Ayahnya sudah meninggal dan ibunya mengalami gangguan jiwa. Sekarang dia tinggal bersama neneknya yang bekerja sebagai tukang pijta keliling. Dia benar benar miskin Pak. Untuk makan saja dia susah.”
”betul Pak. Bapak tahu kan keadaan ekonomi keluarga saya? Agung lebih parah dari saya Pak.” kata Sarah dengan suara lirih.,
”Benar Pak. Tetapi dia mempunyai semangat yang tinggi untuk bersekolah. Biarpun dia nggak sekolah, dia bisa membaca dan menulis. Pengetahuannya juga luas Pak. Terbukti kan Pak, kalau anak itu mau belajar? Maka itu pak, kami mohon dengan sangat sama bapak. Izinkan dia untuk bersekolah di sini tanpa anggaran apapun.” tuturku.
Pak Amir kaget mendengar permohonan kami. Beliau menggeleng. Beliau yang membangun sekolah ini tidak bisa menerima ini.
”Sulit untuk melakukan hal itu Din.”
”kenapa?” tanya Sarah geram.
apa bapak tega membiarkan anak itu mendengar cerita kami? Dia butuh pertolongan bapak. Dia harus sekolah agar berguna nantinya di masa depan.” kata Sarah.
Suasana hening.
”pak, saya akan bayar keperluan Agung di 2 bulan ini, kalau dia terbukti pintar, bapak harus memberikan beasiswa padanya. Tapi kalau dia tidak bisa, keluarkan dia.” kataku tegas.
Pak Amir dan Sarah kaget dengan perkataanku. Lalu sarah mengangguk. Pak Amir pun setuju dengan keputusan yang aku buat. Semua ini demi prinsip yang akan aku jalani.


*


”serius kamu Din?”
Aku mengangguk.
”waahh.. terimakasih Tuhan, akhirnya Tuhan menjawab doa Agung. Terimakasih.”
Aku tersenyum.
Siang ini tak sepanas biasanya. Aku duduk di bawah pohon beringin bersama Agung yang sedang tersenyum senang mendengar bahwa dia akan mendapat beasiswa apabila dalam 2 bulan ini dia lulus tes. Aku tidak memberitahunya bahwa aku yang akan membayar uang tes dan segalanya ini selama 2 bulan. Sarah sudah pulang duluan tadi. Dia tidak pulang bersamaku lagi karena dia harus ke tempat Ayahnya.
Din, ke rumahku yuk. Aku perkenalkan nanti sama Mbok Minah.” katanya.
Aku mengangguk.
Kami berjalan bersama menuju rumah Agung. Jalannya hancur dan lebih kotor dari jalan sekitar rumahku.
Akhirnya kami tiba di depan rumah Agung. Kami masuk ke dalam.
”Mbok, Agung bawa temen nih.”
Sesosok wanita tua keluar dari kamar. Itu dia Mbok Minah. Beliau tersenyum melihatku.
”eh, den Udin.”
”ia Mbok.” sahutku sambil tersenyum.
”kalian udah saling kenal?” tanya Agung.
”Emaknya Udin itu langganan Mbok Gung.”
”ohhhh..”
”biar Mbok bikinin teh ya.”
“enggak usah mbok. Mbok duduk aja di sini.” kataku.
”ia Mbok. Mbok,, Agung punya kejutan buat Mbok, Agung bakal sekolah mbok. Udin daftarin Agung di sekolah Jurumudi dan Agung bakal dapet beasiswa Mbok. Tapi Agung harus tes dulu selama 2 bulan. Kalau Agung lulus tes, Agung bakal dapet beasiswa selamanya sampai Agung lulus di sekolah SD Jurumudi. Tapi kalau Agung gak lulus tes, Agung gak bisa sekolah lagi Mbok.” tutur Agung panjang lebar.
Mata Mbok berkaca-kaca. Segelintir air mata jatuh di pipinya yang keriput. Mulutnya terus berucap Alhamdulilah. Agung memeluk Mbok Minah. Aku tak tega melihat pemandangan ini. Terlalu mengharukan.
Hari sudah sore. Aku harus pulang. Aku segera pamit pulang. Mbok Minah memelukku dan menangis lagi. Dia berkali-kali mengucapkan terimakasih padaku. Aku hanya mengangguk dan tersenyum.


*


Aku memegang celengan ayamku yang sudah ada sejak aku TK. Bapak dan Emak memang sudah mengajariku menabung dari kecil.
Ini pilihan. Aku harus menghancurkan celengan ini dan memberikan uangnya kepada Agung atau tetap menyimpannya. Aku terus memeganginya. Dan ku bulatkan tekadku. Ku lempar celengan ayan itu dan keluarlah uang-uang yang sudah kutabung bertahun-tahun itu.
Kukumpulkan uang-uang itu dan kuhitung. Ada Rp. 3.950.000,00. Aku menaruhnya di dalam amplop dan kusimpan di dalam tas sekolahku. Segera ku rapikan pecahan celengan yang ada dan ku buang itu. Lalu aku segera terlelap di kasur bulukku seperti biasa.


*


ini uangnya pak. Biaya tes Agung.”
Pagi-pagi sekali aku sudah datang dan langsung kutemui Pak Amir. Dia kaget dan tersenyum bangga padaku.
”besok dia akan sekolah di sini”.


*


Besok dateng langsung ke sekolah ya Gung. Ini buku, seragam dan alat tulis yang di berikan sekolah. Belajar yang bener ya.” kataku.
”makasih banyak ya Din! Kamu emang teman yang baik.”
”sama-sama”


*


”Din, emak mau tanya sama kamu. Celengan ayam kamu udah kamu pecahin ya.”
Aku kaget dengan pertanyaan Emak.
Aku mengangguk.
”kamu apakan uangnya nak?” tanya emak lembut.
emak jangan marah sama Udin ya. Itu Udin kasih buat cucunya Mbok Minah. Dia pingin sekolah. Jadi duitnya Udin kasih ke dia Mak. Maafin Udin ya Mak.” tuturku merasa bersalah.
Emak tersenyum memandangku. Beliau mengelus kepalaku dengan halus sambil mengangguk. Ku lihat Bapak tersenyum dan mengancungkan jempolnya padaku.
”Nanti Emak belikan celengan yang baru, jangan lupa untuk terus menabung ya nak.”
”iaa mak. Makasih”


*


Agung berangkat sekolah dengan ku dan Sarah. Dia sekelas dengan kami. Kelas 5a. Aku yakin dia akan lulus tes karena dia anak yang sangat pintar. Aku dan Sarah terus memperhatikan cara Agung belajar. Dia memiliki kemajuan yang sangat pesat. Dia bisa seperti itu karena dia mempunyai niat sekolah yang tinggi.
Di kelas dia selau melakukan dan menjawab apa yang tidak bisa murid lain lakukan dan murid lain jawab. Dia benar-benar jenius. Nilainya rata-rata 9 . Dia juga sering mendapat nilai 100 dalam pelajaran. Tak sia-sia aku membayar uang tesnya.
Tak terasa 2 bulan telah dia lewati di sekolah SD Jurumudi ini. Ini saatnya pak Amir menentukan apakah Agung bisa mendapat beasiswa ini.
”Agung,”
”ia Pak.”
”prestasi kamu sangat memuaskan. Bapak sangat bangga dengan nilai-nilaimu.”
”terimakasih pak.”
”baiklah,, kamu........... berhak mendapatkan beasiswa ini.”
”alhamdulilah... terimakasih Tuhan” sorak Agung kegirangan.
Dia segera menjabat tangan Pak Amir dan mengucapkan terimakasih.
Saat keluar dari ruangan Pak Amir, dia segera memelukku dan juga Sarah. Kami terharu melihatnya.
Dan akhirnya, dia menjadi siswa tetap Sekolah SD Jurumudi ini.
Kami bertiga; aku, Sarah dan Agung, bertekad.. kami akan membuktikan bahwa orang kampung Rawa Ban-Ban yang beradah di tengah kota Tangerang ini dapat melebihi orang-orang besar yang kaya dan sombong itu. Kami akan membuat mereka terkejut. Ini adalah cita-cita kami dan pasti akan terwujud nanti. Kami yakin....................








Tamat


Tidak ada komentar:

Posting Komentar