Kamis, 01 Desember 2011

Lemah dan Siti

 “Roy, kamu udah siap belum?”
Suasana sore yang sejuk membuatku semangat pergi hari ini. Suara mobil bermesin diesel telah terdengar. Setumpuk barang barang telah dimasukan ke dalam mobil.
Hari ini aku akan pulang ke rumah nenekku yang ada di desa. Provinsi Jawa Tengah, kabupaten Pemalang, bersama.... hmmm.. Pacarku, Roy. Ini kali pertamanya aku membawa Roy ke tempat nenekku. Ia sangat tertarik dengan semua hal yang aku cerikan tentang desa. Maklum, dia adalah orang kota tulen yang tak punya kampung halaman.
Aku berdiri dan terbalut dalam sebuah kaos dan jaket berwarna kuning dengan bawahan blue jeans. Melihat ke arah jam tangan beberapa kali dan melihat ke dalam pintu rumahku. Menunggu Roy yang sedang merenung di dalam toiletku dalam keadan tanpa celana dan mengeluarkan kotoran kotoran menjijikan dari bokongnya.
Roy kamu lama banget!” teriakku ketika melihat seorang lelaki tampan dengan rambut ala Justin Bieber, mengenakan jaket berwarna abu abu dan blue jeans. Tersenyum dan masuk ke dalam mobilah yang dipilihnya untuk menghindari omelanku.
Aku hanya menggeleng dan mengikutinya masuk ke dalam mobil, lalu duduk dan langsung mengenakan sabuk pengaman. Roy sudah siap menyetir mobil ini untukku. Mobil Touring yang gagah ini pun melesat pergi.
*
tebing tebing curam sudah terlihat di sepanjang jalan. Di bawah jalan adalah jurang. Aku sedikit takut karena memikirkan hal yang tidak tidak. Tapi aku melupakannya ketika melihat bukit bukit yang indah mengelilingi jalan ini.
Dalam perjalanan, aku hanya menikmati pemandangan sekitar sambil menyanyikan lagu kebangsaanku. I just need somebody to looovee. Lagu yang dinyanyikan artis kesukaanku. Bahkan aku sempat tergila gila dengannya sebelum aku mengenal Roy. Yah. Justin Bieber, yang mirip dengan Roy. Aku bersyukur akan itu.
Suaraku yang cempreng membuat Roy menutup telinganya. Aku meekuk mukaku hingga terlihat seperti orang idiot yang kesal. Roy hanya mengelus kepalaku dengan lembut. Aku suka caranya menghiburku.
Tiba tiba mobil yang kami naiki berhenti. Aku sedikit kaget, lalu melirik Roy yang terlihat kebingungan.
Mogok.” katanya singkat.
Aku menghela nafas dengan keras. Roy segera keluar dari mobil dan memeriksa mesinnya. Aku mengikuti langkahnya untuk keluar dari mobil dan melihat mesin yang sama sekali tidak aku mengerti.
Kenapa?” tanyaku polos.
Enggak tau. Tiba tiba mogok. Padahal engga ada masalah.” katanya sambil terus memperhatikan mesin mobil.
Jalanan sangat sepi saat itu. Tak ada satu pun mobil yang melewati kami. Aku sedikit menggigil karena angin cukup kencang saat itu. Seperti mau menerbangkan aku, Roy dan juga mobil milik Roy.
Roy yang melihatku menggigil menyuruhku segera masuk ke dalam mobil. Aku menurtinya saja agar aku tidak membuat lelaki itu repot karena aku yang sakit.
Ketika aku membuka pintu mobil, tiba tiba mobil Touring itu menyala kembali. Mesinnya yang bersuara keras mengagetkanku. Roy menatap ke arahku dengan pandangan aneh. Lalu masuk ke dalam mobil. Sama seperti apa yang aku lakukan. Ekspresi wajahnya terlihat khawatir. Aku mengenggam tangannya. Dia hanya tersenyum masam. Lalu mobil kembali di jalankan.
Sore telah menjelang malam dan kami belum sampai di rumah nenek. Tak ada perbincangan di dalam mobil. Yang ada hanya rasa ketakutan yang melanda saat kejadian tadi. Perasaanku tidak enak dan tambah tidak enak lagi ketika melihat sebuah pohon yang sanga besar dan menyeramkan.
Tiba tiba seorang ibu ibu cantik berbaju merah darah dengan rambut panjang menyebrang jalan tanpa melihat kanan kiri. Roy kalap dan membanting stir ke arah jurang. Dan, kami pun jatuh ke jurang bersama mobil kami. Wanita itu, tidak ada lagi.
*
”Roy! Kamu gimana sih nyetirnya!!!!”
kami selamat dari kecelakaan itu. Badanku berlumuran darah bercampur dengan lumpur. Roypun begitu. Sekarang kami terjebak di jurang. Untuk mencapai jalanan tadi sangat tinggi. Aku tak tahu jalan lain untuk keluar selain memanjat.
Aku kesal dengan Roy karena tidak hati hati menyetir mobil. Kamipun terlibat percekcokan yang rumit. Aku memilih meninggalkan Roy yang sibuk sendiri dan massuk ke dalam hutan. Aku menangis kesal.
Tiba tiba, seorang anak kecil mendatangiku. Dia sangat cantik dan mengenakan pakaian model tahun 80an.
”kok, nangis?” tanyaa lembut.
”aku ribut sama pacarku,” jawabku polos sambil tetap menangis.
“ini bukan salah pacarmu. Ibuku yang salah. Sekarang aku tunjukan jalan keluar dari sini.” kata gadis itu.
masuk ke dalam hutan, dan panjatlah bukit bukit yang ada dan kau akan menemukan jalan yang tadi kau lewati. Setelah menemukan jalan itu, kau akan melihat sebuah pemukiman warga, dan carilah bantuan di sana. Sekarang temui pacarmu dan meminta maaflah karena kau telah menyalahkannya” kata gadis kecil itu.
Aku bingung dengan gadis kecil. Dia muncul tiba tiba dari dalam hutan. Aku sedikit bergidik. Lalu gadis itu tersenyum dan berbalik memasuki hutan.
maafkan ibuku yang telah mencelakaimu ya. Dia memang iseng” kata gadis itu lalu tertawa seram.
siapa namamu?” teriakku sebelum ia pergi lebih jauh.
lemah” jawabnya, lalu hilang ke dalam hutan.
Lemah? Nama yang aneh gumamku. Aku segera pergi menemui Roy, lalu memeluknya dan meminta maaf padanya.dia tersenyum dan membalas pelukanku. Lalu aku menggandeng tangannya, dan pergi dari tempat itu. Mengikuti jalan yang di tunjukan gadis itu. Benar, kami sampai di jalan tadi dan melihat sebuah pemukiman warga. Kami segera berjalan ke sana dengan susah payah.
Aku mengetuk sebuah rumah dan seorang bapak bapak menatap kami berdua. Dia sedit terkejut ketika melihat kami yang berlumuran darah dan lumpur. Si bapak mempersilahkan kami masuk dan kami menceritakan semua yang terjadi. Seorang perempuan keluar dari dalam sambil membawa nampan berisi teh. Lalu ikut duduk bersama kami. Aku juga menceritakan tentang gadis kecil yang aku temui. Roy cukup kaget mendengar ceritaku.
untung kalian selamat.” kata si bapak sambil mendesah.
Apa maksudnya? Gumamku.
Yang kalian lihat itu adalah sesosok mahkluk ghoib, ” kata si ibu.
Apaa?
Ya.. mereka itu adalah setan. Setiap tahun mereka mengambil nyawa orang orang yang melewati jalan itu. Kadang mereka juga suka mengisengi warga di kampung ini. Mulai dari mengotori setiap rumah, memesan makanan dari warung dan membayarnya dengan daun, sampai menculik anak anak desa. Mereka benar benar jahat. Tapi untunglah kalian selamat. Karena tak pernah ada orang yang selamat jika sudah bertemu mereka.” jelas bapak itu.
Bulu kudukku berdiri mendengar cerita si bapak. Aku menggenggam tangan Roy yang dingin dan memeluknya erat dengan ekspresi wajah kami yang pucat pasi.
Dari dulu aku tak pernah percaya dengan hal seperti itu. Tapi ternyata hal seperti itu memang ada dalam dunia ini.
Ya,, memang mereka berdua adalah pohon. Pohon besar menyeramkan yang aku lihat tadi dan sebuah anak pohon di sampingnya. Nama sang ibu adalah Siti, yang berarti tanah. Diambil dari bahasa jawa halus atau kromo. Dan si gadis itu, bernama Lemah. Yang artinya tanah. Sama seperti ibunya. Di ambil dari bahsa jawa sehari hari atau bahasa jawa yang kasar.

******

Tidak ada komentar:

Posting Komentar